Cerita Kehidupan Cewek-Cewek yang Bersekolah di SMA Khusus Putri






Sekolah adalah masa dimana kita bisa melakukan hampir apa saja. Tidak cuma disibukkan dengan belajar, kita juga bakal seru-seruan bareng sahabat di kelas, ngerasain sibuknya ngatur acara pensi, sampai pacaran sama anak kelas sebelah. Nah, jadi gimana ya rasanya menghabiskan masa-masa ini di sekolah yang khusus putri atau putra? Apa bedanya dengan sekolahan “biasa”?

Saya sebagai siswi sekolah homogen akan membagikan pengalaman saya yang sudah saya alami kurang lebih hampir 3 tahun di sekolah homogen untuk kamu semua. Penasaran ‘kan? Langsung aja yuk!


1. Karena terbiasa dengan sekolah “campur” sejak kecil, kamu merasa canggung saat pertama kali mengikuti MOS di sekolah barumu.



Meski sudah tahu bahwa kamu bakal menuntut ilmu di sekolah homogen, duniamu tiba-tiba terasa kurang lengkap ketika ngeliat siswa di sekolahmu pake rok semua. Bayangkan 3 tahun, dimana-mana hanya ada rok? 😢

2. Khusus buat siswa yang berasal dari luar kota, kamu mesti siap hidup mandiri sejak dini.





Karena sekolah khusus putri biasanya menyediakan asrama, banyak muridnya yang berasal dari luar kota. Ini berlaku nggak cuma di sekolah Katolik, tapi juga di pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh negeri.
Ada beberapa sekolah yang mewajibkan muridnya tinggal di asrama. Tapi, ada juga yang nggak. Kalau sekolahmu termasuk yang kedua, kamu harus berpikir: tinggal di asrama yang aturannya ketat tapi rame dan terjamin fasilitasnya, atau ngekost, yang sedikit lebih bebas tapi mesti “sebatang kara”? Pilihan ada di tangan
kamu orang tuamu. Kamu yang memilih ngekost –atau terpaksa, karena gak dapet kuota di asrama– mesti rela meluangkan waktu untuk mencari tempat kost beserta isinya.

3. Saat pertama masuk sekolah, sebagian dari kamu mengalami gegar budaya.





Gak seperti masa SMP yang siswanya heterogen tapi berasal dari daerah yang sama, sekolahmu yang sekarang memiliki siswa yang putri semua tapi berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Tentulah masing-masing dari kalian punya karakter dan kebiasaan berbeda-beda. Biar bisa merangkul semua teman barumu, kamu mesti pandai-pandai beradaptasi.
Tidak heran juga nih sekolah kamu dapat julukkan Indonesia Mini, senang banget yakk! 


4. Karena teman-teman yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, logat bicaramu jadi ikutan berubah.



Wei kitak dah ngerje tugas ke?
Ii belum ini, ko sudah ka?
Ee amang tahee, tugas apa pula' nya bah?

Perbedaan karakter dan latar belakang menciptakan akulturasi budaya yang unik di sekolahmu, yang gak dimiliki sekolah-sekolah lainnya. Logat Jawa campur Sunda, Jakarta, Kalimantan, serta Papua. Kosakatamu jadi penuh warna.


5. Telingamu pun mesti beradaptasi dengan suara cempreng teman-temanmu.




Gak cuma cara bicara, pelan-pelan telingamu pun beradaptasi dengan gaya bicara anak-anak sekolahmu, yang kadang volumenya mengalahkan toa mesjid. Belum lagi, usia yang masih muda bikin kamu dan teman-temanmu jadi sensitif dan nyolot. Ya, namanya juga perempuan ya, ada hari sensitifnya masing-masing *youknowla. Kayak kata Presiden Jokowi, “Pokoknya kita bikin rame sudah!” (Pake logat Papua).

6. Kamu juga wajib manggil “Kak” tiap kali menyapa kakak kelas.






Ya, bukan “Mbak,” apalagi “Tante.” Panggilan “Kak” ini sebenarnya kultur asrama yang ditularkan ke sebagian besar siswa yang ada di sekolahmu. Maksudnya sih biar adik kelas hormat sama kakak kelasnya dan kakak kelas juga bisa menghargai adik kelasnya.

7. Satu-satunya obat cuci mata buatmu adalah guru muda yang ganteng.



Ke mana lagi mesti mencari pemandangan sedap di dalam sekolah kalo bukan sama guru muda yang ganteng? Menjadi guru muda yang ganteng di sekolah khusus cewek memang punya tantangannya sendiri, mulai dari digodain, dirumpiin, dibikinin fans club, bahkan sampai dideketin dan dimodusin siswi-siswinya.
Meskipun saking jarangnya cowok di sekolah khusus putri, hampir setiap guru muda cowok yang kerja disana bakal dibilang ganteng atau cool, sih. Walaupun nggak ada yang ganteng juga yak.

8. Pemandangan lain: mahasiswa fakultas pendidikan yang lagi PPL.



Wooo Siappp!!

Hal yang sama juga berlaku pada mahasiswa-mahasiswa (kurang) beruntung yang mendapat jatah PPL alias Program Pengalaman Lapangan di sekolahmu. Sebagai calon guru yang masih canggung, mereka adalah incaran empuk kalian buat dikerjain dan dikecengin. Dan hal yang paling membanggakan buatmu adalah ketika kamu berhasil memenangkan hati guru-guru PPL ganteng, menyisihkan teman-temanmu yang sama tertariknya.

9. Meski nggodain itu seru, malas juga kalo ada guru yang ganjen ke kamu.




Karena seorang guru itu gak boleh ganjen. Yang boleh ganjen itu cuma kamu. Hehehe.

10. Kamu juga antusias banget saat bikin acara di sekolahmu dan mengundang anak-anak sekolah lain.




Sekali waktu kamu juga pengen jadi tuan rumah. Setelah 
merengek ke Suster Kepala Sekolahmengajukan proposal acara dan disetujui, kalian pun berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan sisi terbaik almamater kalian kepada anak-anak sekolah lain. Pokoknya jangan sampai malu-maluin.


11. Absennya siswa cowok di sekolahmu bikin kamu menjadi pribadi yang lebih ekspresif




Kamu yang dulu jaim buat ngapa-ngapain di sekolah, kini gak malu-malu lagi buat ikutan kegiatan ini-itu di sekolah. Mulai dari OSIS, panitia pensi, ekstrakurikuler, sampai lomba-lomba. Pokoknya, kamu jadi cewek yang apa adanya, tapi juga lebih berani dari sebelumnya. Termasuk posisi duduk yang juga jadi seenaknya. Hehehe.


12. Sekolah khusus putri juga memupukmu untuk jadi pribadi yang mandiri.




Mulai dari angkut-angkut perlengkapan, memanjat tiang buat pasang spanduk, bikin dekor buat acara sekolah, sampai jadi panitia pelaksana; semua itu kamu lakukan tanpa sosok siswa cowok untuk membantumu. Ternyata, cewek juga mampu kok melakukan banyak hal sendirian!

13. Pokoknya, kamu bangga telah menjadi bagian dari keunikan sekolahmu!




Wanita mandiri, berprestasi, berpribadi!

Kalian adalah bukti nyata bahwa sekolah swasta yang isinya cewek semua itu bukan sekolah anak buangan, tapi sebaliknya. Terlepas dari awalnya kamu bersekolah di sini karena keinginan sendiri atau orang tua, kamu bersyukur karena telah menjadi bagian dari sekolahmu!
Kalo bisa mengulang kembali keceriaan masa SMA di sekolahmu, kamu pasti gak berpikir dua kali buat mengiyakan. Nah, apa kamu punya pengalaman menyebalkan dan menggembirakan lainnya di sekolah? Langsung aja deh bagiin sama pembaca lainnya di kolom komentar yak!






Komentar

  1. Ada foto kudu uhh
    ❤️❤️❤️😘

    BalasHapus
  2. ketika wanita harus berjuang sendiri, di sekolah yg heterogen pun, wanita slalu jd unggulan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iyaa..makasih dan semangat yak kak ekaa ❤

      Hapus
  3. Ini nih "Seminari"-nya para perempuan... 👍😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh gilak,gilak mantapp..hehe makasih yak frater 🙏

      Hapus
  4. Mantapp thx infonyaaa, jgn lupa kunjungi blog ku devinarenata.blogspot.co.id

    BalasHapus
  5. Artikel yang sangat memotivasi Vale. Salam dari Om Leo di Ngabang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa..makasih banyak yak om 🙏 salam dari jogja 🙏

      Hapus
  6. Ahhhhh tyantikk, boleh loh nggunjungi blogku juga😍😍
    Renatagltm.blogspot.co.id

    BalasHapus
  7. Bagus sekali, menjadi inspirasi banget. Kalo aku udah punya anak, aku bakalan masukin ke sekolah homogen nih haha

    BalasHapus
  8. Ahhhh sukakkk...
    Jangan lupa kunjungi blogku.
    veeparera.blogspot.com

    BalasHapus
  9. Mantabb.. Visit my blog ya http://www.diptahariningtyas.blogspot.co.id
    Thanks

    BalasHapus

Posting Komentar